Ba’da Ashar,Saya beranjak dari kos ke CMC memenuhi undangan. Hmmm, ternyata belum pada datang saat itu. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu di serambi Masjid Uzlifatil Jannah sambil membaca-baca. Tak berapa lama ada anak kecil kira-kira berumur 8 tahun dengan raut yang kucel menghampiriku dan bertanya:”Ke Giwangan berapa lama lagi ya Mb kalo jalan?dan arahnya kemana?”. Saya kemudian memberikan arah2nya dan menyarankan lebih baik make bus jalur 12 atau 7,tapi sang anak berkata:”jalan aja mb”.
Batinku berkata:”jalan, mau sampai kapan, jauh dan melelahkan lagi, tidak kepikiran kalo ternyata dia kehabisan ongkos.
Tak berapa lama ibunya menyusul ikut mendengarkan juga apa yang saya arahkan.Terjadilah dialog antara saya dengan ibu tersebut.
Saya:”Emang ibu mau kemana?”
Ibu:”Saya mau pulang ke Madiun Mb. Sudah meninggalkan rumah selama 5 hari, saya di yogya udah 3 hari mb.”
Saya:”Disini udah kemana aja Bu dan ada keperluan apa?”
Ibu:”Udah muter-muter dari Madiun ke Semarang lalu ke Yogya. Saya mencari suami saya sudah 3 bulan pergi dari rumah. Info yang saya terima, suami saya ke perempuan lain yang ada di Semarang. Saya ke Semarang ke tempat perempuan itu katanya sudah pergi ke yogya.”
Degg..Subhanalloh..cobaan untuk ibu tersebut, mencari suami sudah muter-muter karena lari ke perempuan lain.
Beliau kemudian berkata lagi:”Saya sebenarnya g’ mau mencari, tetapi anak saya ini yang semangat banget mencari Bapaknya.” Sambil berkaca-kaca dan melihat ke anaknya
Dalam hati berkata:”Ya Allah, anak sekecil ini, semagat sekali mencari ayahnya sampai meninggalkan sekolah.”
Saya bertanya lagi:”lha adiknya kelas berapa Bu?”
“Kelas 3 SD Mb..”.jawab ibu itu sambil menata tasnya.
“Saya sudah habis uangnya Mb,buat muter-muter.jadi ini saya mau jalan ke terminal. Terus nanti numpang bus yang mau ditumpangi ke madiun.Karena saya kehabisan ongkos, jadi kalo cape’ ya istirahat ke masjid,kalo haus ngambil air di kran”
Ya Rabb,apa yang bisa aku tolong,,,klo mau ngasih uang, kebetulan lagi limit juga. Akhirnya hanya kata-kata yang bisa kuberikan.
“Sabar ya BU’…ini ujian untuk Ibu..”.kataku menghibur.
“Iya Mb. Makanya Mb…besok klo punya suami jangan hanya mengandalkan pemasukan dari suami.Ya jadinya seperti saya ini, suami pergi saya g’ punya pegangan uang dan g punya apa-apa. Ya, kita tidak berharap kejadian seperti itu. Tapi minimal kita megang barang sepeserlah. Sudah 3 bulan juga suami saya tidak masuk kantor.Ya ujian, suami lagi bagus-bagusnya di kantor malah lari” Kata ibu tersebut bercerita kembali.
Pada awalnya saya agak takut dengan ibu tersebut, takut menipu. Tapi kalo dilihat dari kata-kata beliau dan cerita beliau saya yakin kalo ibu ini memang butuh bantuan.
Tak berapa lama akhwat yang lain datang dan akhirnya saya berpamitan dengan ibu tersebut. Perjalanan menuju tempat syuro’, saya bercerita dengan akhwat yang lain. Akhwat yang saya ajak bicara kemudian berkata:”kok g’ bilang dari tadi to d’, kalo gitu kan bisa mb ambil uang di atm.”.
Sesampainya di ruangan syuro’ pikiran kita berdua tidak konsen memikirkan seorang ibu dan anaknya tersebut. Mau menolong gimana caranya.
Dan beliau kemudian meminjam uang ke akhwat yag
lainnya untuk diberikan ibu tadi.
Setelah menyerahkan, akhwat tersebut berkata pada
saya:”Ibu’nya nangis lho d’ dikasih uang tadi…”
Ya,semoga uang itu bermanfaat dan yang memberikan
mendapat rezeki yang lebih lagi.Amin…
Kata-kata yang terus saya ingat
dari bu tersebut sampai sekarang adalah “besok
klo punya suami jangan hanya mengandalkan pemasukan dari suami.Ya jadinya
seperti saya ini, suami pergi saya g’ punya pegangan uang dan tidak punya
apa-apa.” Dan prinsip inilah yang ibu Saya tanamkan kepada saya bahwa mencari
nafkah memang kewajiban seorang suami, tetapi alangkah lebih baiknya jika kita
bisa membantu suami meringankan bebannya. Tentunya dengan izin suami juga, jika
kita ingin bekerja.
Kalaupun kita tidak diperbolehkan untuk bekerja
diluar, keterampilan apapun yang kita punya dimaksimalkan. Meski dirumah, kita
tetap punya penghasilan. Misalnya kita suka menulis cobalah untuk menulis dan
kitatawarkan ke penerbit, sukanya masak bikin makanan kemudian kita coba
promosikan, mempunyai keterampilan menjahit, mencoba menerima jahitan dan lain
sebagainya. Hal tersebut untuk jaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang
terjadi. Ya minimal kita punya tabungan dari sendiri selain tugas kita memanage
keuangan keluarga kita yang diberikan oleh suami.
Bukankah di dalam berumah tangga
akan lebih indah jika antara suami dan istri saling menolong dan saling meringankan
beban satu sama lain??. Hehe, meskipun belum merasakan, tapi sedikit bayak
kehidupan rumah tangga ibu-bapak saya tau bagaimana dan harus seperti apa dan
hal ini menjadi rujukan saya tentunya dalam berumah tangga pada saat yang tepat
nanti.
Mungkin sekelumit cerita ini
membawa hikmah untuk kita, terutama sebagai seorang wanita yang akan menjadi
calon istri. Hal ini bukan berarti kita akan menyaingi atau merendahkan
suami,tetapi sebagai jaga-jaga, seperti kata pepatah:”Sedia paying sebelum
hujan”. Jadi kita persiapkan diri kita untuk masa depan yang kita tidak akan
pernah tau apa yang akan terjadi dan akan kita jalani. Silahkan melihat dari
berbagai macam sudut pandang, mungkin dari masing-masing kita mempunyai
pendapat.
Yuk, persiapkan diri kita menjadi seorang istri yang bisa memanage keluarga dengan baik.
Yuk, persiapkan diri kita menjadi seorang istri yang bisa memanage keluarga dengan baik.
Wallohu a’lam.
Ruang Pena,21 November
2011 Pukul 11:44
@kantor Ustadzah SD IT
Baitussalam,Prambanan
.jpg)