Rabu, 21 November 2012

Cerita Senja Seorang Ibu di Masjid Uzlifatil Jannah 9 Oktober 2012



              
           Ba’da Ashar,Saya  beranjak dari kos ke CMC memenuhi undangan. Hmmm, ternyata belum pada datang saat itu. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu di serambi Masjid Uzlifatil Jannah sambil membaca-baca. Tak berapa lama ada anak kecil kira-kira berumur 8 tahun dengan raut yang kucel menghampiriku dan bertanya:”Ke Giwangan berapa lama lagi ya Mb kalo jalan?dan arahnya kemana?”. Saya kemudian memberikan arah2nya dan menyarankan lebih baik make bus jalur 12 atau 7,tapi sang anak berkata:”jalan aja mb”.
Batinku berkata:”jalan, mau sampai kapan, jauh dan melelahkan lagi, tidak kepikiran kalo ternyata dia kehabisan ongkos.
Tak berapa lama ibunya menyusul ikut mendengarkan juga apa yang saya arahkan.Terjadilah dialog antara saya dengan ibu tersebut.
Saya:”Emang ibu mau kemana?”
Ibu:”Saya mau pulang ke Madiun Mb. Sudah meninggalkan rumah selama 5 hari, saya di yogya udah 3 hari mb.”
Saya:”Disini udah kemana aja Bu dan ada keperluan apa?”
Ibu:”Udah muter-muter dari Madiun ke Semarang lalu ke Yogya. Saya mencari suami saya sudah 3 bulan pergi dari rumah. Info yang saya terima, suami saya ke perempuan lain yang ada di Semarang. Saya ke Semarang ke tempat perempuan itu katanya sudah pergi ke yogya.”
Degg..Subhanalloh..cobaan untuk ibu tersebut, mencari suami sudah muter-muter karena lari ke perempuan lain.
Beliau kemudian berkata lagi:”Saya sebenarnya g’ mau mencari, tetapi anak saya ini yang semangat banget mencari Bapaknya.” Sambil berkaca-kaca dan melihat ke anaknya
Dalam hati berkata:”Ya Allah, anak sekecil ini, semagat sekali mencari ayahnya sampai meninggalkan sekolah.”
Saya bertanya lagi:”lha adiknya kelas berapa Bu?”
“Kelas 3 SD Mb..”.jawab ibu itu sambil menata tasnya.
“Saya sudah habis uangnya Mb,buat muter-muter.jadi ini saya mau jalan ke terminal. Terus nanti numpang bus yang mau ditumpangi ke madiun.Karena saya kehabisan ongkos, jadi kalo cape’ ya istirahat ke masjid,kalo haus ngambil air di kran”
Ya Rabb,apa yang bisa aku tolong,,,klo mau ngasih uang, kebetulan lagi limit juga. Akhirnya hanya kata-kata yang bisa kuberikan.
“Sabar ya BU’…ini ujian untuk Ibu..”.kataku menghibur.
“Iya Mb. Makanya Mb…besok klo punya suami jangan hanya mengandalkan pemasukan dari suami.Ya jadinya seperti saya ini, suami pergi saya g’ punya pegangan uang dan  g punya apa-apa. Ya, kita tidak berharap kejadian seperti itu. Tapi minimal kita megang barang sepeserlah. Sudah 3 bulan juga suami saya tidak masuk kantor.Ya ujian, suami lagi bagus-bagusnya di kantor malah lari” Kata ibu tersebut bercerita kembali.
Pada awalnya saya agak takut dengan ibu tersebut, takut menipu. Tapi kalo dilihat dari kata-kata beliau dan cerita beliau saya yakin kalo ibu ini memang butuh bantuan.
Tak berapa lama akhwat yang lain datang dan akhirnya saya berpamitan dengan ibu tersebut. Perjalanan menuju tempat syuro’, saya bercerita dengan akhwat yang lain. Akhwat yang saya ajak bicara kemudian berkata:”kok g’ bilang dari tadi to d’, kalo gitu kan bisa mb ambil uang di atm.”.
Sesampainya di ruangan syuro’ pikiran kita berdua tidak konsen memikirkan seorang ibu dan anaknya tersebut. Mau menolong gimana caranya.

Dan beliau kemudian meminjam uang ke akhwat yag lainnya untuk diberikan ibu tadi.
Setelah menyerahkan, akhwat tersebut berkata pada saya:”Ibu’nya nangis lho d’ dikasih uang tadi…”
Ya,semoga uang itu bermanfaat dan yang memberikan mendapat rezeki yang lebih lagi.Amin…
Kata-kata yang terus saya ingat dari bu tersebut sampai sekarang adalah “besok klo punya suami jangan hanya mengandalkan pemasukan dari suami.Ya jadinya seperti saya ini, suami pergi saya g’ punya pegangan uang dan tidak punya apa-apa.” Dan prinsip inilah yang ibu Saya tanamkan kepada saya bahwa mencari nafkah memang kewajiban seorang suami, tetapi alangkah lebih baiknya jika kita bisa membantu suami meringankan bebannya. Tentunya dengan izin suami juga, jika kita ingin bekerja.
Kalaupun kita tidak diperbolehkan untuk bekerja diluar, keterampilan apapun yang kita punya dimaksimalkan. Meski dirumah, kita tetap punya penghasilan. Misalnya kita suka menulis cobalah untuk menulis dan kitatawarkan ke penerbit, sukanya masak bikin makanan kemudian kita coba promosikan, mempunyai keterampilan menjahit, mencoba menerima jahitan dan lain sebagainya. Hal tersebut untuk jaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang terjadi. Ya minimal kita punya tabungan dari sendiri selain tugas kita memanage keuangan keluarga kita yang diberikan oleh suami.
Bukankah di dalam berumah tangga akan lebih indah jika antara suami dan istri saling menolong dan saling meringankan beban satu sama lain??. Hehe, meskipun belum merasakan, tapi sedikit bayak kehidupan rumah tangga ibu-bapak saya tau bagaimana dan harus seperti apa dan hal ini menjadi rujukan saya tentunya dalam berumah tangga pada saat yang tepat nanti.
Mungkin sekelumit cerita ini membawa hikmah untuk kita, terutama sebagai seorang wanita yang akan menjadi calon istri. Hal ini bukan berarti kita akan menyaingi atau merendahkan suami,tetapi sebagai jaga-jaga, seperti kata pepatah:”Sedia paying sebelum hujan”. Jadi kita persiapkan diri kita untuk masa depan yang kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi dan akan kita jalani. Silahkan melihat dari berbagai macam sudut pandang, mungkin dari masing-masing kita mempunyai pendapat.
Yuk, persiapkan diri kita menjadi seorang istri yang bisa memanage keluarga dengan baik.
Wallohu a’lam.
Ruang Pena,21 November 2011 Pukul 11:44
@kantor Ustadzah SD IT Baitussalam,Prambanan

Kamis, 21 Juni 2012

Titian Perjalanan Menuju Finish


Bulan Mei-Juni 2012 adalah masa-masa perjuanganku untuk menyelesaikan amanah dari orang tua, yaitu kuliah. Bapak-Ibu mendesak untuk lulus karena perhitunganku janji lulus meleset dua kali. Pertama, Wisuda Desember 2011 dan yang kedua adalah Maret 2012.  Dan mau tak mau targetku kali ini untuk wisuda bulan Juli 2012 harus terlaksana. Dilihat dari penelitian sebenarnya selesai bulan January 2012 kemarin dan mengejar wisuda maret sebenarnya bisa. Tapi rencana Allah berkata lain, Aku harus istirahat 2 minggu karena sakit gejala tipes dan tensi saat itu hanya 80/60 yang sampe mengorbankan hobyku memakan sambel selama 2 minggu itu juga. Ni’mat Allah…

Jeda ketika sudah lama berusaha akan membuat fresh, tetapi jeda lama karena tidak melakukan apa-apa, maka memulainya lagi akan berat

Maret-April-Mei mencoba mengembalikan semangat setelah sakit dan merapikan kembali data-data penelitianku untuk menambah keyakinan bertemu dosen pembimbing. Yah tepatnya tanggal  14 Mei 2012 kutemui dosen pembimbingku dan beliau berkata:”Wah, udah lama sekali g’ bimbingan”. Aku pun hanya tersenyum.  Empat kali bimbingan kemudian aku disuruh mendaftar ujian skripsi.Alhamdulillah…tepatnya tanggal 26 Mei 2012 aku mendaftar ujian skripsi. Disaat akan mendaftar skripsi pun aku dibenturkan dengan agenda yang wajib kudatangi. Menunggu lama, Petugas TU-nya baru ada jam 9 sedangkan agenda itu dimulai jam8. Yah, ujian kesabaran..karena lama sekali menunggu kebetulan waktu itu kunci untuk masuk TU di bawa sama petugas yang lain, jadi berkas-berkas kutitipkan saja ke beliau dan berjanji bakda dzuhur akan balik lagi. Bakda dzuhur, setelah agenda selesai aku pun menemui beliau untuk mendaftar ujian skripsi.

Menunggu seminggu, akhirnya kabar ujianku datang juga dengan cerita yang unik. Yah, Kamis tanggal ..Mei 2012 setelah mengikuti KRPH di Mardhiyah, ku kirim sms ke adik tingkat yang daftar ujian skripsinya di atasku. SMS pun dikirim:”gimana d’, jadwalnya dah keluar belum??” dia pun menjawab:”Insya Allah saya hari Jum’at sore mb”. Aku pun feeling bakalan hari sabtu ujian skripsinya, karena nomernya urutnya selisih dua. Tidak lama kemudian, setelah selesai sholat Dhuha dapet sms lagi:”Mb Dewi ujian skripsinya hari Sabtu jam 13.30”. dan aku membalas:”Pengujinya siapa d’?. “Lupa Mb’ siapa pengujinya”. Dan setelah itu setiap selesai sholat Aku layangkan do’a Robithoh dengan membayangkan semua wajah dosen2ku…Dan feelingku berkata akan mendapat salah satu dosen penguji seorang doctor lulusan S3 Perancis yang ahli dalam statistika, karena penelitianku sebagian besar menggunakan rumus-rumus statistika.

Hari Kamis berlalu, kemudian hari jum’at menunggu-nunggu kabar dari TU g’ ada karena sehari sebelum ujian skripsi biasanya ditelpon petugas untuk diberi tahu jadwal dan dosen pengujinya.  Waktu itu hari jum’at mau menemui petugas TU g’ jadi untuk memastikan jam ujian plus dosen penguji karena menyelesaikan power point. Dan akhirnya hanya do’a yang selalu terucap agar Allah memberikan kelancaran. Malam Jum’at dan malam sabtu pun tidur rasanya g’ nyenyak. Kebangun terus dan didalam mimpi sedang sidang skripsi…Jum’at jam 16.00-20.00, Aku pun masih meluangkan waktu les private. Sampe adik les-nya bilang:”G’ ngganggu mb’ dewi po??”. Aku pun menjawab:”Insya Allah g’ d’…udah disiapkan, mohon do’anya aja”. Dan Aku pun yakin, JIKA KITA MENOLONG ORANG, PASTI ALLAH AKAN MENOLONG KITA.

Hari Sabtu pagi Aku mengirim sms ke temen2 untuk meminta do’a agar diberi kelancaran setelah sebelumnya hari jum’at mengesms ibu,bapak, dan murobby2ku. Dan kebanyakan balasan sms berbunyi:”Alhamdulillah, akhirnya…”Gleg…ternyata selama ini kelulusanku ditunggu-tunggu kabarnya. Alhamdulillah, masih banyak yang peduli terhadapku..hehe..

Setelah menyiapkan semua keperluan untuk ujian pendadaran dan sholat dhuha, aku melangkah ke kampus untuk menanyakan kejelasan ujian skripsiku. Sudah jalan Allah, waktu ke TU petugasnya ternyata g’ ke kampus. Agak panic juga jadinya, dan akhirnya kuputuskan untuk menelpon beliau. Beliau berkata iya dan meminta maaf karena tidak mengabari ketika ku pastikan, dan ditanya:”Siap kan Mb’?. Aku hanya tersenyum dan bilang Insya Allah…dan beliau pun mengesms dosen penguji untukku…dan…salah satu dosen itu adalah yang membuktikan feelingku sebelumnya, Dosen lulusan S3 Perancis dengan gelar DEA menjadi dosen pengujiku…

Setelah itu pun aku terus menenangkan dan menyiapkan diri serta mengatur nafas agar stabil Adzan dzuhur pun berkumandang. Aku segera mengambil air wudhu untuk sholat dan terus berdo’a… Jam 12.15 aku sudah siap dengan memakai baju putih, rok hitam, jilbab putih(warna pakaian yang biasa untuk ujian skripsi). Sambil menunggu teman yang akan menemani aku terus berdo’a dan latihan presentasi. 

Jam 13.00 teman yang kutunggu belum datang dan lumayan panic apalagi ada yang ngesms. “Mb’, ujiannya dimana?tadi udah ditanyain bapaknya. Bapaknya naik mb’ dewi g’ ada.”. Gludag!!!deg2an juga, masa dosennya udah nyampe duluan, padahal infonya jam 13.30. Akhirnya dengan jalan kaki kulangkahkan kaki ke kampus,karena aku tak mau ditunggu dan langsung naik ke ruang sidang di lantai tiga. Dengan ngos-ngosan dan panic kusiapkan semuanya. Kebetulan dosen belum nyampe’. Note Book kubuka dan kusiapkan presentasinya. Waktu menyolokkan kabel sambungan ke LCD kok g’ bisa2. Wah, semkin banyak keringat yang keluar. Akhirnya ada petugas TU yang datang, da kumintai tolong, tp g’ bisa juga. Wah, pikiran udah kemana2..

Dosen penguji pun hadir dan bilang kalau ada satu kabel yang bengkok jadi g’ konek. Petugas TU pun ke Simeru untuk mengganti kabelnya. Alhamdulillah, akhirnya bisa connect.
Jam 13.45 Ujian pun dibuak dan dimulai dengan Presentasi 10 menit tentang hasil penelitianku. Setelah itu giliran diuji bacaan Al Qur’an-nya. Tak tanggung-tanggung dan berbeda dengan peserta ujian yang lainnya, aku disuruh hafalan Al Ghosiyah…Setelah itu gentian dosen penguji mengkritisi skripsiku. Dasarnya dosen pembimbingku Kyai Krapyak jadi kebanyakan kita malah membahas tentang asbabun nuzulul surat, dan malah timbul ide dari para penguji :”LULUSAN FKIP PENDIDIKAN MATEMATIKA HARUS HAFAL JUZ 30”…lumayan g’ tegang jadinya. Dosen penguji pun membawa suasana seperti orang ngobrol biasa. Banyak masukan yag diberikan dibandingkan pertanyaan. Alhamdulillah…Eits lupa aku ditemani para akhwat yang berjilbab besar semua sampe dibilang:”Ini Anak buahnya Ustadz ****** ya,,,?salam ya…ada satu dosen pun bilang:”oh ikut ini berarti.??”.(menyebutkan salah satu merk). Gleg…menelan ludah sambil senyum, dan untuk mencairkan suasana karena kebetulan disitu ada anak kos dari ustadz tersebut, langsung tak bilang:”Itu Pa’ anak kosnya”..hehe jual nama temen… Dan selama diberikan pertanyaan pun dosen sambil guyonan. Dosen pembimbngku yang terkenal suka membantai anak bimbingannya  sendiri saat ujian, Alhamdulillah denganku beliau berusaha membantu menjawab”…

Sejam berlalu, sekitar pukul 14.45 aku dan teman2 disuruh keluar untuk menunggu hasil ujianku. Sekitar jam 15.00 aku disuruh masuk dan ditanya:”Bagimana menurut saudara hasil dari ujian tadi?”. Aku pun menjawab sambil tersenyum:”Kalau menjawab pertanyaan Insya Allah 60%, tapi kalau melihat teks skripsi masih kurang Pa’… Beliau bertanya lagi:”jadi anda tidak puas?”.”ya Pa’ saya belum puas”.” Mau mengulang lagi?”.”hehe ya g’ lah Pa’ kalau itu”.”terus menurut saudara, saudara lulus atau tidak”. Dan dengan mantap aku pun menjawab:”Insya Allah lulus dengan revisi”. Dosen pun berkata lagi:”ya, berdasarkan hasil penilaian para penguji, Anda lulus dengan revisi.”Alhamdulillah…”kataku dalam hati. Para dosen pun berpesan:”Sms orang tua anda kalau anda sudah lulus dan ada bersyukur di hari yang penuh berkah ini. Titip salam buat orang tua anda”…Alhamdulillah akhirnya 12 Rajab 1433 Hiriah bertepatan dengan 2 Juni 2012 aku lulus. Alhamdulillahirobbil ‘alamin…

Setelah itu aku pun sholat Ashar dan sujud syukur atas nikmat yang diberikan Allah hari itu. tak lupa juga mengesms ibu-bapak memberitahukan kalau sudah lulus dan menyampaikan salam dari para dosen. Dan jawaban bapak:”Alhamdulillah, sudah sujud syukur belum?”. Beda lagi dengan ibu menjawab:”Alhamdulillah, terus dewi mau balik??”Gleg!!!dan akhirnya pun aku menjawab:”Dewi masih banyak yang diurus Bu’, revisi, daftar yudhisium dll”. Aku kurang tau yang dimaksudkan ibu apakah balik ke rumah selamanya atau setelah ujian itu.

Seminggu berikutnya aku disibukkan dengan revisi dan mencari buku referensi yang diminta dosen disambi dengan menjadi admin di DM 2 AKMMI Bantul. Efeknya pun tidak bagus untuk jadi admin, administrasi g’ rapi akhirnya. Jadwal untuk ketemu dosen pun tertunda karena buku yang dicari belum ketemu. Rencana hari jum’at tanggal 8 Juni mau ketemu dosen, tapi pagi2 ibu telpon butuh peralatan buat rias pengatin hari sabtu. Yah, mau tak mau aku pun harus mencarinya dan mengantarkannya pulang juga jum’at sore. Sabtu pagi jam 5.30 rencana balik ke yogya karena jam8 ada agenda. Tapi apa mau dikata, ketinggalan kereta dan akhirnya naik bus nyampe’ yogya jam 09.00. Karena ingin segera nyampe yogya sampe salah bus jurusan Semarang. Untung belum keluar kota jadi bisa turun. hehe
Bakda Dzuhur mau ketemu dosen tapi beliau mengajar dan akhirnya ngeprint dulu smabil tak tinggal ke agenda lainnya. Harapannya ketika agendaku usai hard file jadi dan aku bisa menemui dosen. Tapi ternyata Allah belum berkehendak, saat kembali ke tempat ngeprint, fileku ternyata belum di print semua dan kuputuskan untuk ketemu dosen hari senin.

Senin tiba akupun berangkat ke kampus dengan gembira dan penuh pengharapan agar hari itu bisa di ACC oleh semua dosen. Ya, perjuangan tak semudah itu… Pertama kudatangi dosen pembimbing, beliau cek apa yang menjadi masukan waktu pendadaran dan sudah lengkap, tapi ada satu tabel yang tidak satu halaman alias terpisah, akhirnya beliau belum mau menandatangi. Perjuangan dilanjutkan ke dosen penguji kedua, beliau cek masih ada yag kurang tp beliau mau menandatangani dan percaya bakalan diperbaiki karena memang mengejar yudhisium 14 juni. Alhamdulillah,,, Lanjut kedosen penguji pertama…Hmm…PRnya ada empat yang harus diperbaiki. Dosen penguji pertama inilah yang menohok, agak sensi mungkin karena udah membimbing banyak orang pada hari it. Aku tanya ke beliau:”Bapak ada di kampus jam berapa?”. Beliau menjawab:”Saya di kampus sampai sore, belum tentu kamu bisa menyelesaikan hari ini”. Mak jleb-jleb kena banget, tapi tak apalah itung-itung sport jantung. Aku memutuskan untuk pulang memperbaiki, dan yang bisa kuperbaiki masukan dosen pembimbing, Alhamdulillah dapet tanda tangan….tinggal hari esok menemui dosen penguji pertama dan dekan.

Selasa 12 Juni 2012 adalah hari terakhir pengumpulan berkas yudhisium untuk wisuda bulan juli. Mau tidak mau aku harus berusaha sekuat tenaga untuk mengejar semuanya. Aku tidak mau mengecewakan ibu-bapak. Senin malam pun ibu sudah sms kalau bahan baju untuk wisuda udah dibeliin, tinggal dijahit seperti apa. Itu yang menjadi tantanganku…kalau sampe tidak wisuda juli akan menangis darah karena udah mengecewakan ibu bapak kesekian kalinya. 

Akhirnya Selasa itu aku persiapkan semua dan kutemui penguji pertama. Alhamdulillah, karunia Allah beliau mau menandatangani meskipun masih ada yang kurang dan beliau percaya padaku akan diperbaiki…ALhamdulillah dpt “KEPERCAYAAN”. Semua dosen sudah tanda tangan tinggal dekan. Alhamdulillah jalan Allah, Bapak Dekan lg ada di kampus 3 dan akhirnya dapat tanda tangan. Setelah itu menyiapkan berkas-berkas untuk mengajukan bebas administrasi ke BAA.

Jam menunjukkan pukul 11.10 dan aku harus berpacu dengan waktu. Mau ngedit sedikit skripsi, flashnya mash dipinjam. Dan kuminta flash itu di tempat temenku..Eh, dicari flashnya g’ ada. Semakin panic padahal hari itu terakhir. Dicari-cari ternyata terselip di tasnya. Ahamdulillah… Setelah ngeprint editan akupun meneruskan perjalananku untuk menjilid skripsi. Adzan Dzuhur sudah tiba dan kuputuskan untuk sholat dahulu. Sekitar jam 12.30 aku teruskan perjalananku mencari tempat jilid yang cepat. Muter-muter g’ ada yang berani. Alhamdulillah dapet di glagah sari. Sambil menunggu menjilid, aku pergi ke toko buku untuk membeli buku yang akan diwakafkan ke prodi. Karena penggila buku, jadi g’ terasa sudah jam 13.45 padahal kayaknya baru masuk. Akhirnya kuputuskan membeli salah satu buku dan melajukan kuda besi dengan keceptan tinggi. Ya, tentu saja dibarengi Dzikrul Maut…

Saat tiba di tempat penjilidan, skripsiku sudah selesai dijilid dan waktu itu tepat pukul 14.00. Wadoh.. berarti sudah telat, untungnya bertemu dengan kakak tingkat da beliau bilang esoknya masih bisa ngumpulin kok ke TU. Alhamdulillah, tapi masih kurang yakin akhirnya menelpon bapak TU, tp g’ diangkat…Di sms g’ di bales. Akhirnya memutuskan langsung ke perpus aja dech… Setelah selesai urusan di perpus kuayunkan langkahku ke TU, malang saat itu TU udah tutup… sedikit gontai aku berjalan pulang… sampai di kos melihat HP dan ada satu sms masuk:”Maaf Mb’ saya sudah pulang, besok lagi ya..”. Cess…bagai embun menetes di pagi hari (lebay ya…:D) Alhamdulillah besok masih bisa dikumpulkan. Terima kasih bapak…

Hari berikutnya kukumpulkan berkas-berkas yudhisium… Dan seperti biasa dengan ramahnya bapaknya menerima berkas-berkas itu sambil berkata:”Oh, ini mbak yang pendadaran g’ saya kasih tau ya??sukses kan?maaf ya mb’ waktu itu saya tanyakan ke temen-temennya g’ ada yang dong..”. hehe iya P’…g’ papa..alhamdulillah lancar.”Lega rasanya berkas Yudhisium sudah masuk, tinggal menunggu pengumuman.

Tanggal 14 Juni 2012 adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu sekaligus hari bersejarah. Alhamdulillah…Dengan mengucap syukur kepada Allah akhirnya “AKU LULUS”. Teringat saat bareng temen2 seperjuangan sering kulontarkan:”KAPAN AKU LULUS??”. Alhamdulillah sekarang aku bisa menjawab, tanggal 14 Juni 2012 Aku sudah Lulus dengan lama kuliah 4 tahun 9 bulan 15 hari… dan janjiku pada ibu-bapak untuk wisuda 14 Juli terpenuhi…..Happy Ending… 

Perjalanan hidup masih panjang setelah ini, LULUS adalah start untuk kehidupan yang sesungguhnya. Kata temenku:”Welcome to the real world!!!”. Like that lah poko’e… Alhamdulillah untuk step ini, Bismillah untuk step selanjutnya..

Thank’s To:Allah SWT (maka nikmat-Mu manakah yag kan kudustakan?), Rasulullah, Bapak-Ibu (yang sudah lama menunggu anak pertamanya lulus),adik2Q, para sang Murobby/sang Guru, ikhwah fillah, sahabat2ku,aktivis dakwah kampus UAD dan semua pihak yang sudah membantu apapun bentuknya...

Tulisan ini bukan untuk riya’ atau apapun, tulisan ini adalah rasa syukur dan kegembiraan hati yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata secara langsung. bagi yang belum lulus dan sedang menyusun step kelulusan semoga termotivasi.. Lulus akan menyelesaikan satu masalah sebelum timbul masalah-masalah selanjutnya..
Pertolongan Allah terlalu dekat untuk kita sia-siakan tanpa usaha maksimal dari diri kita. MAN JADDA wa JADA!!
@Ruang Pena
Yogyakarta, 12-20 Juni 2012


Selasa, 12 Juni 2012

Pengaruh Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Emosional terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa kelas 8 SMP IT Abu Bakar Yogyakarta Semester 1 Tahun Pelajaran 2011/2012


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional terhadap hasil belajar  matematika siswa kelas 8 SMP IT Abu Bakar Yogyakarta semester 1 tahun pelajaran 2011/2012.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 8 SMP IT Abu Bakar Yogyakarta Semester 1 Tahun Pelajaran 2011/2012 yang terdiri dari 6 kelas yaitu kelas 8A, 8B, 8C, 8D, dan 8E,8F. Sampel sebanyak satu kelas dengan siswa sebanyak 24 orang diambil dengan teknik random sampling class, dengan cara undian kelas dan diperoleh kelas 8A. Teknik pengambilan data digunakan metode tes untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa, metode angket untuk mengetahui kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional siswa. Analisis butir soal menggunakan uji validitas, uji reliabilitas dan daya pembeda. Pengujian hipotesis menggunakan analisis korelasi product moment dan analisis regresi linear ganda.
Hasil penelitian menunjukkan kecerdasan spiritual berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar matematika, hal ini ditunjukan oleh dengan koefisien korelasi sebesar 0,364. Besarnya sumbangan relatif sebesar 73,34 % dan sumbangan efektif sebesar 17,91 %. Kecerdasan spiritual berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar matematika, hal ini ditunjukan oleh dengan koefisien korelasi sebesar 0,353 dan. Besarnya sumbangan relatif sebesar 26,65% dan sumbangan efektif sebesar 6,51%.  Sedangkan kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional  secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar matematika, hal ini ditunjukan oleh dengan koefisien korelasi ganda sebesar 0,49412 dan koefisien determinan 49,412% .      
         
Kata Kunci:Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Emosional, hasil Belajar matematika