Sabtu, 31 Juli 2010

Sebuah Anugerah.....

Sabtu malam sehabis Maghrib, setelah aktivitas kuliah berakhir, Aku menuju terminal Sampai di rumah sekitar pukul 22.00 karena kebetulan bus yang aku tumpangi dari terminal Giwangan mogok di daerah Sedayu.  Agak cemas juga karena seorang akhwat tanpa ditemani siapapun  semalam itu belum sampai rumah.  Orang-orang rumah pun menelpon terus, menanyakan sudah sampai mana.  Saat tiba di kota kecamatan ayahku menjemput.  Sesampai di rumah aku kaget ketika melihat ibu.  Beliau tak biasanya serapi dan secantik itu.  Biasanya jika di rumah memakai pakaian seadanya.  Dan yang lebih kagetnya lagi ibuku memakai baju daster dan mataku menangkap ada sedikit beda disekitar perutnya.  Aku hanya bertanya-tanya dalam hati:”Apa iya ibu mengandung lagi?”. Tapi prasangkaku aku hiraukan dan aku terlarut dalam hangatnya kebersamaan.  Aku pun tidur setelah bercengkerama dengan keluargaku.  Masih ada tanda tanya juga sebenarnya dalam benak dan hatiku.”Benarkah ibu mengandung lagi??”.  Lagi-lagi kutepiskan semua itu dan aku pun mulai terlelap dalam buaian indahnya  mimpi.Zz…Zzz
Pagi-pagi aku bangun dan mulai melakukan aktivitas selayaknya ibu rumah tangga (hiperbolis….).  Mencuci, masak dan yang terakhir menyetrika baju yang menumpuk, kebiasaan orang rumah kalau aku belum pulang pastilah baju-baju yang sudah di cuci terhampar di tempat tidur dan yang jadi korban adalah kamarku.  Mereka menyetrika baju yang akan dipakai saja.  Ketika menyetrika baju yang bergunung-gunung pun aku terkejut.  Apakah yang terjadi? Ternyata baju yang kusetrika kebanyakan adalah daster.  Dan pikiranku tadi malam terbesit kembali.  Dugaanku pun diperkuat ketika adikku memegang bola basket di sebelah ibuku yang sedang duduk dan bilang:”Bu, ibu main basket ja nanti biar jabang bayinya pintar main basket”.  Dalam hatiku”degg!!” berarti prasangkaku tadi malam benar dan pertanyaan-pertanyaanku dalam hati terjawablah sudah dengan baju-baju daster dan perkataan adikku yang semakin meyakinkan. 
Aku pun tetap meneruskan setrikaanku dan dalam hati ini kayak disayat-sayat rasanya, tidak tahu mengapa seperti itu.  Rasanya aku ingin berteriak dan bilang:”kenapa aku harus punya adik lagi?”.  Sakit sekali rasanya. Setelah setrikaan selesai aku pun masuk kamar dan air mataku tak kuasa untuk kutahan.  Tangis yang keluar ridak kulepaskan hanya kutahan karena aku takut ibu mendengar dan bertanya kenapa menangis dan aku takut membuat beliau kecewa.  Ku coba menepiskan semua itu dan sedikit-sedikit kuusap air mataku sampai habis.  Setelah itu keluar kamar dan melakukan aktivitas seperti biasanya.
Yang aku sayangkan kenapa dari pertama ibu tahu kalau beliau hamil tidak memberitahuku.  Ketika aku ingat-ingat lagi, sebenarnya ayahku sudah bilang saat beliau datang ke kos.  Waktu itu sebelum pulang beliau sempat berkata:”Doain ibu y?”.  Aku sempat tanya:”doain apa?”.  Ayahku pun jawab tapi aku tidak begitu mendengarkan.  Tangkapan pikiranku ya biasalah kita saling minta do’a, tidak ada pikiran yang sejauh itu.  Tapi ternyata do’a yang ayahku maksud sebenarnya biar diberi kelancaran ibu dalam melahirkan.  Sebenarnya aku agak tidak menerima kedatangan adikku adalah ibu sudah tidak muda lagi dan punya penyakit lemah jantung dan darah rendah.  Aku khawatir kalau terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.  Karena menurut yang kudengar kalau sudah tua kemungkinan melahirkannya susah.  Dan dari perjalan ibuku melahirkan, anak laki-laki pertama meninggal karena ibu tidak kuat untuk melahirkan dengan normal.  Aku juga sempat berfikir jauh:”Aku tidak mau dan belum siap kalau sampai harus kehilangan ibu(hiks..hiks..).  Tapi aku istighfar.  “Astaghfirullah!kenapa aku berpikiran sejauh itu dan berprasangka buruk kepada Allah? Padahal yang tahu kapan umur manusia akan di akhiri hanya Allah”.  Akupun berulang kali istighfar sembari tak kuasa air mataku terus menetes. “Ya Allah mengapa aku berpikiran seperti itu”.
Sore harinya aku pun kembali ke Yogya tanpa berusaha untuk bertanya sudah berapa bulan ibu mengandung.  Seperti biasa sebelum berangkat ayah memberi wejangan dan satu kata yang sering beliau ucapakan:”hati-hati”.  Aku pun mencium tangan dan pipi ibuku sebelum berangkat dan beliau titip minta dibelikan daster.  Aku pun menjawab:”Insya Allah bu..”.  Dalam perjalanan ke Yogya aku pun terus kepikiran ibuku.   Sepanjang perjalanan rasanya ingin menangis juga.  Sampai-sampai orang yang duduk di sebelahku pun tidak kusapa.  Biasanya ketika ada orang duduk disebelahku langsung aku menyapa dan menanyakan mau turun dimana.  Tapi saat itu aku tidak peduli dengan orang-orang disekelilingku karena hati yang kecil ini harus ditata kembali untuk bisa menerima semua apa yang telah menjadi ketentuan dari Allah.
Sampai di kospun aku cerita ke teman-teman kos dengan mata agak berkaca-kaca.  Di sisi lain aku gembira tetapi ketika ingat kesehatan ibuku aku menjadi sedih.  “Apakah yang akan terjadi dengan ibuku ya Allah?”.  Sepertiga malam aku bangun untuk meluapkan semuanya kepada Sang Pencipta.  Dan akupun berdo’a:”Ya Allah, jika ini memang kehendakMu dan dengan lahirnya adik kecilku membawa keberkahan bagi keluarga kami, aku ikhlas.  Ya Allah, hilangkan prasangka-prasangka buruk yang ada dalam diriku.  Ya Allah, aku mohon lancarkan kelahiran adikku dan berikanlah keselamatan bagi ibu dan janin calon adikku.  Dan jika memang dengan jalan ini Kau tetapkan ibuku sebagai seorang syahidah, aku rela ya Allah.  Tapi jika boleh aku masih ingin berlama-lama dengan beliau.  Aku ingin beliau menyaksikan kesuksesanku nanti…”.  Tangan ini menengadah dan air matapun basah memohon diberikan jalan yang terbaik bagi semua, itu yang aku minta.  Lama-kelamaan aku menerima semuanya dan hati ini sudah tertata kembali.  Aku berfikiran positif, Allah pasti akan memberikan keberkahan-keberkahan dengan lahirnya adikku nanti.  Aku juga berpikir:”Ah, tak peduli orang-orang bilang jarak antara aku dan adikku semua itu sudah tertulis dalam Lauhul Mahfuz”.  Walaupun jaraknya lumayan jauh, sekitar 19 tahun tapi dalam diri ini berazam:”insya Allah aku ingin membiayai sekolah adikku sampai setinggi-tingginya”.  Aku yakin bisa karena adikku yang pertama juga jaraknya 17 tahun, jadi ketika adikku yang kedua besar kita berdua sudah bekerja.  Ketika adikku yang kedua besar maka saat itulah aku membalas kebaikan orang tuaku.  Mungkin tidak seberapa dengan apa yang telah mereka lakukan tetapi setidaknya meringankan beban kedua orangtuaku.
Beberapa minggu kemudian aku pulang dan membawakan daster pesanan ibuku.    Hati ini sudah tidak ada ganjalan lagi dan aku bercerita biasa dengan ibuku.  Sesekali aku juga menempelkan tanganku ke perut ibuku saat adikku dalam rahim menendang-nendang.  Oh, adikku hiperaktif sekali.  Setelah beberapa lama akhirnya ibuku bercerita tentang awal mulanya ketika ibuku akan diberi janin dalam harinya.  Kata beliau ketika akan hamil, sebelumnya diberi tahu dari mimpi kalau akan diberi amanah (momongan lagi).  Ayahku juga bermimpi yang sama dan waktunya pun sama.  Jadi adik yang dalam rahim ibuku memang benar-benar Allah telah mengamanahkan kepada kedua orang tuaku.  Lama kelamaan aku pun merasa sangat ingin sekali adikku cepat-cepat lahir.  Aku ingin melihat kelucuan dan keimutannya.  Rasa sesal, sakit hati dan lain-lain yang sebelumnya aku rasakan telah sirna.  Saat itu aku hanya berdo’a, semoga semuanya lancar.  Amiiin….
Pada tanggal 29 Agustus 2008 jam 11 malam, aku menerima sms dari adik pertamaku yang berisi:”Mb, doain ibu y! dede’ udah mau lahir…”.  Setelah menerima sms itu akupun lalu mengganti sim card-ku yang semula As menjadi simpati agar bisa menelpon(promosi??).  Aku pun bergegas menelpon ibuku dan Tanya:”Gimana bu? Dah terasa mau lahir apa?”.  Ibuku menjawab:”Iya, ini terasa mau lahir dan sekarang lagi di bidan.  Doain ibu y?”.  Sekiranya sudah cukup aku matikan ponsel dan kuganti lagi sim card-nya dengan kartu As-ku.  Makin malam mata ini sulit kupejamkan.  Akupun bergegas mengambil air wudhu dan Qiyamul Lail.  Dalam doa, yang kuminta ibuku diberikan kemudahan dalam melahirakan.  Mata ini kurasa cukup lelah dan kuputuskan untuk berbaring.  Di pembaringan pikiranku mereplay kejadian tadi sore ketika ada acara temu kader.  Di situ ada kakak tingkat yang membawa keponakan perempuannya yang lucu.  Dan anganku pun melayang, berarti kalau adikku lahir akan lucu seperti itu.  Apalagi kalau cewe’.  Tapi cewe’ apa cowo tidak masalah yang penting selamat.  Tak tersadar mata ini pun telah memejam dan  menyatu dengan lautan mimpi.
Esok harinya aku bangun dan kuperiksa inbox hp.  Ternyata ada satu pesan masuk dari adikku.  SMS itu berisi:”Mb dede’ udah lahir, cowo’.”  Kulihat jam dikirimnya sms itu.  Sekitar jam 12.30 sms masuk di inboxku.  Syukur Alhamdulillah kuucapakan.  Akhirnya dede’ yang dinanti-nantikan keluargaku lahir juga.  Kami sekeluarga sangat gembira sekali karena adikku lahir di penghujung bulan sya’ban dan mendekati awal Ramadhan.  Mungkin kalau lahirnya Ramadhan, bisa-bisa ayah tidak konsen ketika jadi imam.  Syukur Alhamdulillah lahirnya di penghujung bulan Sya’ban.  Saat itu pun aku memutuskan untuk pulang hari Sabtu.  Tapi rencana pun gagal karena harus revisi makalah.  Walaupun g jadi pulang makalah pun gagal direvisi karena sudah begitu jenuhnya dan ingin cepat-cepat bertemu adik kecilku.  Dengan meninggalkan seonggokan kertas berisi makalah, akhirnya kuputuskan hari Ahad sore aku pulang dengan hati yang gembira.
Sampai di rumah, aku disambut dengan gembira dan aku pun bergegas mencium adik kecil yang mungil.  Alhamdulillah beratnya 3 kg.  Sembari menunggui adikku,ibu bercerita proses kelahiran adikku.  Kata beliau, hari Jum,at sore ibuku USG yang terakhir untuk melihat bayi yang dikandungnya.  Tapi paginya beliau seperti ada firasat akan melahirkan, bersih-bersihlah beliau di sekitar rumah.  Ibu pun menggumam, siapa tahu habis bersih-bersih adikku lahir karena waktu aku lahir dulu, ibuku telah menyelasaikan tugas rumah tangganya.  Setelah itu habis Jum’atan ayah mengantar ibu ke dokter kandungan untuk USG.  Tapi sampai disana ternyata dokternya belum ada dan akhirnya menunggulah sampai habis Maghrib.  Ketika diperiksa dokternya bilang kalau kemungkinan lahirnya 14 hari lagi dan menurut dugaan dokter itu bayi yang ada dalam lrahim ibuku kembar.  Entah mengapa dokter menyimpulkan seperti itu.  Tapi menurut ibu, dokter memberikan diagnose seperti itu karena adikku dililit tali pusarnya dan yang kelihatan ketika di USG itu Cuma pantat adikku.  Kelihatannya mungkin besar, dikiranya bayinya kembar.  Setelah selesai USG ayah dan ibuku pulang beserta menggenggam surat yang tidak tahu isinya apa.  Karena dokter bilang surat itu jangan dibuka kecuali oleh bidan yang ada di desaku.
Tak berapa lama saat ibu sampai di rumah dan baru saja duduk, tiba-tiba ibuku mengeluarkan cairan yang biasa dinamakan dengan cairan ketuban.  Dan tanteku bilang:” kayaknya udah mau lahir dech mb!”.  Kemudian ibuku menelpon bidan dan ternyata beliaunya sedang tidak ada di rumah.  Jadi menunggulah ibuku di bawa ke rumah bidan itu.  Menunggu beberapa waktu saking tidak sabarnya, ayahku pun membuka surat dari dokter apakah isinya.  Ketika dibuka, ternyata dalamnya berisi surat rujukan ke Rumah Sakit Sardjito untuk operasi sesar.  Membaca surat itu, kagetlah ayahku dan terus berdo’a mudah-mudahan diberikan kemudahan dalam melahirkan.  Tak berapa lama bidan desa telephon kalau beliau sudah ada di rumah.  Lalu ibuku dibawa ke rumahnya untuk melahirkan.   Sampai disana ibuku baring dan karena belum ada kontraksi lagi janin yang ada dalam rahimnya beliau jalan-jalan di sekitar keranjang tidurnya.  Kontraksi pun terjadi lagi dan ibuku baring lagi.  Setelah berapa lama akhirnya ibuku melahirkan juga adik cowo’ dengan berat 3 kg.  Ayahku bersyukur karena proses melahirkannya tidak harus operasi sesar.  Padahal kalau dibilang dengan umur ibuku yang 42 tahun sangat riskan dan langka sekali ketika harus melahirkan normal.  Tapi semuanya itu memang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.
Selama di rumah pun aku dan adikku memilihkan nama untuk adik kita.  Sebenarnya ibu sudah menyediakan nama tapi untuk cewe’ jadi kita harus mencari-cari lagi.  Kita mulai membuka-buka buku nama anak dan menemukan beberapa nama yang telah di kombinasi.  Mungkin sekitar 6 nama yang kami temukan.  Nama-nama itu lalu aku berikan ke ayah dan beliau memilih nama dariku.  Muhammad Hanif Fatin, itulah nama yang dipilih ayah.  Tapi karena adiku yang dalam mimpinya menamai adikku itu dengan nama Raditiansyah, akhirnya nama itu pun ditambahkan ke nama yang aku beri.  Jadi nama untuk adikku:”Muhammad Hanif Fatin Raditiansyah”.  Hanif artinya lurus dalam beragama, Fatin artinya Cerdas, sedangkan Raditiansyah karena nama dari dalam mimpi jadi tidak tahu apa arti yang sebenarnya.  Kalau digabungkan arti nama adikku adalah diharapkan ketika besar adiku memiliki sifat-sifat seperti Rasulullah walaupun untuk meneladani sifat-sifat beliau seluruhnya tidak mungkin tapi setidaknya ada sifat-sifat beliau yang terpatri dalam adikku.  Dan berharap lurus dalam beragama(istiqomah) sampai akhir hayat nanti.  Selain itu diharapkan menjadi anak yang cerdas yang bermanfaat bagi orang-orang yang ada disekitarnya dan bagi agama Allah tentunya.  Amiin…
Empat hari kelahiran adikku, orang tuaku memutuskan untuk Aqiqoh agar tidak terlalu lama karena pada waktu itu bertepatan juga dengan awal bulan Ramadhan.  Tapi alangkah sayangnya, ketika acara Aqiqoh belum sampai dan tetangga lagi mempersiapkan segalanya untuk memotong kambing aku harus balik lagi ke Yogya.  Hari ke-4 Ramadhan balik ke Yogya karena siangnya ada Technical Meeting untuk Ospek adik-adik tingkat.  Ya, walaupun dengan berat hati tapi mau bagaimana lagi.  Pantang bagiku ketika harus meninggalkan amanah, kecuali benar-benar ada halangan yang mendesak.  Aku pamit sama semuanya.  Eh, tetanggaku bilang:”kenapa buru-buru mb balik keYogya?padahal rumah lagi rame-rame.  “Wah g suka y adik lahirnya laki-laki bukan perempuan.”  Degg!! Astaghfirullah…. Walaupun waktu pertama kali ibuku hamil lagi aku tidak begitu menerima, tapi ya pikiranku tidak seperti itulah.  Yaahh… mungkin hanya celotehan ibu-ibu saja yang aku anggap cuma bercanda.  Aku Cuma jawab dengan bahasa jawa:”Nggih boten bu…”.  Kelahiran adiku yang kedua ini merupakan anugerah yang besar dalam keluargaku.  Sungguh tidak kuduga sebelumnya.  Subhanalloh, Alhamdulillah inilah salah satu nikmat yang Allah berikan kepada keluarga kami.  Nikmat Allah yang manakah yang akan kita dustakan?  Tidak selayaknya kita seorang hamba diberikan sebuah anugerah oleh yang menciptakan  tapi kita tolak.  So, bagi teman-teman yang ibunya sedang hamil jangan malu-malu apalagi memusuhi dan marah-marah ke kedua orang tua kita.  Mungkin jarak antara kita dengan adik begitu panjang, seperti aku jarak dengan adikku yang kecil 19 tahun(kerenkan?he…).  Yakinlah dengan apa yang Allah kehendaki dan berikan pasti itu yang terbaik buat kita.  Saat diberi tahu ibu mengandung lagi mungkin kaget tapi nanti ketika dede’ kecil kita lahir, kita akan selalu merindukannya.  Seperti yang aku rasakan sekarang.  Andaikan Yogya dan Purworejo ditempuh Cuma beberapa menit mungkin aku akan sering-sering pulang.  Soalnya kangen juga sama dedek kecil yang lagi lucu-lucunya.  Love U  little brother and Mom……